Site Loader

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ANGKA PADA ANAK USIA 3-4 TAHUN MELALUI PERMAINAN MENYEROK IKAN
(Penelitian Tindakan Kelas Di Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan Anak usia dini merupakan bekal dan dasar yang paling penting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Pendidikan yang diberikan sejak usia dini dapat mempengaruhi perkembangan setiap anak. Pendidikan sejak dini juga merupakan pendidikan di masa usia emas atau disebut dengan istilah (the golden age) yang sangat potensial untuk melatih dan mengembangkan berbagai potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak. Pengembangan anak usia dini juga mempunyai arah pada pengembangan segenap aspek pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.
Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Masa pendidikan ketika usia dini adalah masa yang tepat untuk mengembangkan dasar-dasar kemampuan kognitif, fisik, bahasa, sosial-emosional, seni, moral dan juga nilai-nilai agama. Sehingga untuk pengembangan seluruh potensi anak harus dimulai sejak anak usia dini agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai dengan optimal.

Kemampuan kognitif merupakan salah satu aspek kemampuan dasar anak yang sangat perlu untuk dikembangkan melalui pemberian stimulus sejak dini. Kemampuan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir (Slamet Suyanto, 2005:53).

Menurut Piaget dalam buku William crain edisi ketiga (2002:182) perkembangan kognitif anak usia TK berada pada tahap pra- operasional. Pada tahap ini anak mulai menunjukkan proses berfikir yang jelas serta anak mulai mengenali beberapa simbol, tanda, bahasa dan gambar. Berdasarkan paparan tersebut anak usia 3-4 tahun hendaknya sudah mulai mengembangkan pemahaman konsep bilangan.

Bilangan atau angka adalah bagian dari kehidupan kita sehari – hari. Setiap hari kita selalu melihat dan menemukan angka atau bilangan dimana saja dan kapan saja. Bilangan atau yang disebut simbol bernomor menurut Ruslani (Tajudin, 2008: 23) adalah perangkat bantu yang mengandung pengertian Angka-angka ini mewakili jumlah bilangan yang terkandung dalam simbol angka. Angka ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak anak tidak menyadari bahwa angka yang mereka lihat memiliki arti yang berbeda.
Pada dasarnya materi konsep angka atau bilangan di taman kanak-kanak kurang diminati oleh para siswa, sehingga menyebabkan pembelajaran kurang menyenangkan. Padahal konsep angka atau bilangan adalah salah satu materi yang sangat penting untuk pembentukan konsep dan kerangka berpikir anak dan bisa melengkapi pemikiran anak – anak dalam mempersiapkan diri memasuki tingkat sekolah dasar.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer melalui penelitian. maka ditemukan permasalahan pada anak usia 3- 4 tahun di sekolah TKK 3 PENABUR yaitu dalam hal mengenal konsep angka atau bilangan. Pemahaman anak terhadap konsep angka atau bilangan masih sebatas pada menyebutkan angka saja, namun anak belum mampu menunjukkan banyaknya benda sesuai lambang bilangan serta sebagian besar anak belum mampu untuk menunjukkan lambang bilangan sesuai dengan banyaknya benda yang ada ( anak belum memahami konsep angka dengan benar ). Selain itu, sistem pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Learning Center ) sehingga kurangnya pengalaman yang di dapatkan anak ketika ia mempelajari suatu hal dan anak kurang aktif untuk mendapatkan pengalamannya sendiri. Selain itu juga proses pembelajaran cenderung berpusat pada lembar kerja anak (worksheet) sehingga suasana menjadi kurang aktif dan kurang menarik serta kurang menyenangkan bagi anak. Untuk meningkatkan dan mengoptimalkan pemahaman konsep bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun dibutuhkan kegiatan yang lebih bervariasi sehingga dapat menarik minat anak untuk mau belajar dan dapat mengoptimalkan pengetahuan anak tentang konsep bilangan.
Permainan menyerok ikan dapat menjadi salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka atau bilangan. Melalui permainan, anak akan lebih tertarik dan bergerak aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

Montessori mengatakan bahwa dengan cara bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami secara alami tanpa metode adanya paksaaan dengan mengerjakan lembar kerja semacam itu. Untuk dapat meningkatkan berbagai keterampilan belajar anak-anak TK dibutuhkan strategi pengembangan yang baik, yaitu strategi pengembangan menuju pembelajaran yang sesuai dengan dunianya, bermain. yaitu memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi aktif dan kreatif. Dengan bermain, anak akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Mengingat dunia anak adalah dunia bermain, dengan anak bermain belajar, artinya anak yang belajar. dan anak yang bermain adalah anak yang belajar. Bermain dilakukan oleh anak-anak dalam berbagai bentuk sambil melakukan aktivitas, dengan bermain anak mendapatkan pelajaran yang mengandung semua aspek perkembangan.

Permainan menyerok ikan akan sangat mudah dilakukan oleh guru maupun orang tua dalam mengembangkan pemahaman konsep angka pada anak karena semua bahan yang digunakan dalam permainan ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Selain itu, alat permainan yang digunakan dalam kegiatan juga mudah untuk dibuat sendri jika ingin dilakukan diluar lingkungan sekolah. Dengan demikian, permainan menyerok ikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengoptimalkan pemahaman konsep angka pada anak usia 3 – 4 tahun di sekolah TKK 3 PENABUR.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat di identifikasi berbagai masalah yang ada pada pembelajaran kelompok bermain TKK 3 PENABUR yaitu :
Anak kurang tertarik untuk belajar kemampuan kognitif menggunakan metode lama (worksheeet).

Kemampuan anak masih terbatas hanya pada menyebutkan simbolnya atau angkanya saja, namun belum bisa menunjukkan jumlah angka beserta benda.

Sebagian besar anak belum bisa menunjukkan simbol angka sesuai dengan jumlah benda
Proses belajar masih berpusat pada guru, sehingga anak kurang aktif dalam menemukan pengalaman belajar mereka sendiri.

Belajar masih menekankan penggunaan Lembar Kerja Anak (worksheet) sebagai sumber belajar.

1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang di atas, maka observer hanya akan memfokuskan pada peningkatan kemampuan anak yang masih sebatas menyebutkan simbol saja serta sebagian anak juga masih belum bisa menunjukkan jumlah lambang bilangan sesuai dengan jumlah banyaknya benda.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana meningkatkan pemahaman konsep angka melalui permainan menyerok ikan pada anak usia 3 – 4 tahun di TKK 3 PENABUR ?

1.5 Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka atau bilangan dan memberikan manfaat bagi pihak terkait, antara lain :
Bagi siswa

Anak mendapatkan rangsangan melalui aktivitas belajar yang tepat dan menyenangkan sehingga pemahaman konsep angka atau bilangan anak bisa meningkat terutama dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Bagi Guru

Guru mendapatkan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran sehingga anak tertarik untuk belajar sehingga pemahaman konsep angka atau bilangan anak dapat meningkat, sekaligus memberikan metode pembelajaran baru bagi guru untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan.

Bagi Sekolah

Memberikan rekomendasi strategi yang baru dalam proses pembelajaran untuk menarik minat siwanya dalam belajar dan melakukan aktivitas

Bagi Peneliti
Menjadi referensi dalam melakukan penelitian tentang meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan di usia 3 – 4 tahun .

5. Bagi Orangtua
Menjadi alat bantu atau cara dalam membantu proses belajar anak di rumah melalui permainan ini.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
Perkembangan Kognitif
Suatu konsep dalam memahami suatu pembelajaran adalah dasar untuk memahami pelajaran yang dipelajarinya. Konsep tersebut merupakan landasan Amerika dasan terhadap proses pemikiran yang memiliki peranan penting sangat penting untuk pijakan selanjutnya. Kognitif adalah proses berpikir, kemampuan seseorang untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa (Yuliani Nurani Sujiono, 2011: 1.3). Andang Ismail (2006: 145) menggambarkan kognitif yang diartikan sebagai pengetahuan, pengetahuan, kreativitas, kemampuan berbahasa dan ingatan. Selanjutnya, Santrock di Winda Gunarti (2010: 2.4) juga menjelaskan pemahaman kognitif, dimana kognitif didefinisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.

Berdasarkan paparan di atas , dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif adalah pengembangan berpikir kekuasaan , kreativitas dan memori dari seseorang , jadi yang kemudian dapat memecahkan masalah dalam hidup sehari-hari .Perkembangan kognitif dalam penelitian ini adalah pengembangan dari anak-anak di berpikir sesuatu yang terjadi pada lingkungan sekitar.

2 . Tahap Perkembangan Kognitif
Tahapan perkembangan kognitif anak tersebut dibagi menjadi empat tahap yang mencakup tahap sensori motor , preoperational , konkret dan operasional formal .Dalam studi ini , anak tahap pengembangan kognitif berada pada titik tahap preoperational .Tahap preoperational terjadi pada anak-anak dengan usia berkisar antara 2-7 tahun .Menurut piaget di slamet suyanto ( 2005: 55 ) pada tahap ini anak mulai menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas , anak itu mulai mengetahui ada ( termasuk bahasa dan gambar dan anak itu juga menunjukkan kemampuan untuk melakukan permainan simbolis .Karakteristik dari tahap ini adalah kurangnya kemampuan anak dalam melakukan konservasi; berpusat berpikir , sehingga perhatiannya berpusat hanya pada satu dimensi

Anak Usia Dini

Pengertian Anak Usia Dini

Anak usia dini menurut naeyc ( nasional assosiation pendidikan untuk anak anak ) sekelompok orang orang yang berusia berkisar antara 0-8 tahun, pada usia itu manusia sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ( sofia hartati, 2005: 7 ).Tidak seperti konsep di negara maju, di indonesia pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai pendidikan untuk anak usia 0-6 tahun, tidak 0-8 tahun ( slamet suyanto, 2005: 33 ).Berdasarkan paparan di atas, ada pandangan yang berbeda tentang anak usia dini di negara maju dan di indonesia.Anak usia dini di negara maju sekelompok orang orang yang berusia jangkauan 0-8 tahun, selama di jakarta adalah sekelompok orang orang yang berusia berkisar antara 0-6 tahun.Awal anak dalam penelitian ini adalah anak yang di tk kelompok, yang adalah anak anak dengan usia jangkauan 4-5 tahun.

Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki sebuah dunia yang berbeda dan karakteristik yang berbeda dari orang dewasa, di mana anak-anak muda sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu tentang apa yang mereka lihat dan mereka dengar, dan seolah-olah mereka tak pernah berhenti belajar ( sofia hartati, 2005: 8 ).Selain itu, anak usia dini juga memiliki karakteristik seperti yang dikemukakan oleh richard d.Kellough di sofia hartati ( 2005: 8-11 ), anak egosentris, anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, anak tersebut adalah anak makhluk sosial, anak ini unik, anak-anak umumnya kaya dengan fantasi, anak-anak memiliki waktu konsentrasi yang relatif pendek, dan masa anak-anak yang menjadi andalan dan waktu yang sangat tepat dan berpotensial selama periode belajar untuk mengembangkan kecerdasan anak.
Karakteristik anak dalam penelitian ini adalah anak pada usia 3 – 4 tahun dimana anak tersebut adalah makhluk social yang masih memiliki sifat egosentris, kaya dengan dunia fantasi, sangat aktif, mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan memiliki daya konsentrasi yang pendek.

Bermain
Montessori mengatakan bahwa dengan cara bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami dan mengungkapkan secara alami tanpa adanya paksaan metode pemahaman tentang konsep angka ( sudono , 1995: ) 26 .Agar mampu meningkatkan berbagai pembelajaran keterampilan anak taman kanak kanak membutuhkan sebuah strategi pembangunan yang baik , yang demikian itu adalah strategi pembangunan ke arah belajar terhadap anak yang sesuai dengan dunianya , itu yang memberi kesempatan untuk anak – anak aktif dan kreatif. .Bermain diperlukan dan sebagai kegiatan yang penting dilakukan oleh anak anak , anak .Dengan bermain , anak akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat .Yang dibutuhkan oleh anak – anak adalah dunia bermain , dengan bermain maka anak belajar , yang berarti bahwa anak – anak yang belajar adalah anak anak yang bermain , dan anak anak yang bermain adalah anak yang belajar . Bermain hanya dilakukan oleh anak anak dalam berbagai bentuk ketika melakukan kegiatan , dengan bermain anak anak mendapatkan pelajaran yang berisi semua aspek pembangunan .

Permainan Edukatif
Permainan edukatif adalah hal yang kegiatan yang sangat menyenangkan dan bisa jadi cara atau strategi alat pendidikan ( andang ismail , 2006: 119 ). Permainan edukatif juga dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai aspek kecerdasan anak usia sekolah , seperti kognitif , bahasa , sosial emosional , motor dan fisik agama dan nilai nilai moral . Andang ismail ( 2006: 120 ) juga menjelaskan bahwa permainan edukatif dapat berarti suatu bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan kesenangan atau kepuasan dari sarana atau alat bantu yang digunakan dalam pendidikan kegiatan bermain .Dalam studi ini adalah permainan edukasi yang menyenangkan kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak , khususnya berkaitan dengan memahami konsep dari jumlah tersebut bagi anak usia 3- 4 tahun

Tujuan Permainan Edukatif
Menurut Andang Ismail (2006:121) tujuan permainan lebih ditekankan pada pencapaian kesenangan dan kepuasan batin. Selain itu, permainan juga harus dapat diarahkan untuk dapat menghasilkan perubahan sikap. Secara umum, terdapat beberapa tujuan dari permainan edukatif, antara lain:

1) Mengembangkan konsep diri (self concept)

Menurut Andang Ismail (2006:121) memahami konsep diri dapat menjadi fondasi yang paling utama bagi anak, hal tersebut karena dengan memahami konsep diri anak akan merasakan perbedaan dirinya dengan orang lain serta mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya dibanding yang lain.

2) Mengembangkan kreativitas

Menurut Andang Ismail (2006:130) kreativitas merupakan sebuah proses yang menyebabkan lahirnya kreasi baru dan orisinil yang dapat dikembangkan melalui proses mental yang unik dan bisa jadi dihasilkan dari kegiatan otak yang divergen, komprehensif dan imajinatif.

3) Mengembangkan komunikasi

Andang Ismail (2006:139) menjelaskan tentang komunikasi yang merupakan interaksi antara dua anak atau lebih dalam rangka menyampaikan pesan atau informasi kepada yang dituju. Anak dapat mengembangkan komunikasi dengan saling bercerita, berkomunikasi, mengajak bermain bersama teman sebaya, serta saling bertukar mainan. Orangtua atau guru sebaiknya memberikan kebebasan kepada anak dalam mengekspresikan kemampuan komunikasi yang sedang dikembangkan anak.

4) Mengembangkan aspek fisik dan motorik

Melalui permainan yang dapat mengembangkan aspek fisik dan motorik, anak dapat menyalurkan tenaga yang berlebih sehingga anak tidak merasa gelisah, tidak merasa cepat bosan, sehingga jika anak diminta untuk duduk diam berjam-jam anak akan tidak merasa bosan, nyaman, dan tidak merasa tertekan (Andang Ismail, 2006:140).

5) Mengembangkan aspek sosial

Melalui permainan bersama teman sebaya, anak akan belajar berbagi apa yang dia miliki, menggunakan mainan secara bergantian, melakukan kegiatan bersama- sama, mempertahankan hubungan yang sudah ada, dan berusaha mencari cara dan solusi yang dihadapi dengan teman mainnya (Andang Ismail, 2006:142).

6) Mengembangkan aspek emosi dan kepribadian

Menurut Andang Ismail (2006:144) melalui bermain anak juga dapat melepaskan ketegangan yang dialami akibat banyaknya larangan yang ia dapat dalam kehidupan sehari-hari, serta bermain juga dipercaya dapat memenuhi kebutuhan dan dorongan dalam diri anak yang tidak mungkin terpuaskan dalam kehidupan nyata yang di alami oleh anak.

7) Mengembangkan aspek kognitif

Andang Ismail (2006:145) menjelaskan bahwa anak usia prasekolah (anak usia dini ) diharapkan mampu untuk mengusai berbagai konsep, seperti konsep tentang angka atau bilangan, warna, ukuran, bentuk, arah dan besaran yang diharapkan dapat menjadi landasan untuk anak belajar menulis, bahasa, matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Pengetahuan tentang konsep tersebut akan lebih mudah diperoleh melalui permainan. Hal tersebut dikarenakan melalui permainan, anak akan merasa bahagia dan tanpa disadari anak sudah banyak belajar.

8) Mengasah ketajaman pengindraan

Indera yang dimaksud mencakup tentang pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Kelima aspek tersebut perlu diasah sejak dini agar anak menjadi lebih tanggap dan peka terhadap hal-hal yang berlangsung di lingkungan sekitarnya (Andang Ismail, 2006:147). Melalui alat permainan yang edukatif, anak akan mengamati berbagai alat yang dimainkan. Dengan begitu, ketajaman pengindraan anak akan terasah dengan sendirinya. Dengan tajamnya alat indera anak maka anak akan mudah untuk memasuki tahap sekolah lanjutan.

9) Mengembangkan ketrampilan olah raga dan menari

Menurut Andang Ismail (2006:149), melakukan olah raga dan menari diperlukan oleh gerakan-gerakan tubuh yang cekatan, lentur, serta tidak canggung agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan secara optimal.

Tujuan permainan edukatif dalam penelitian ini lebih difokuskan untuk mengembangkan aspek kognitif anak, khususnya yang berkaitan dengan pemahaman konsep angka atau bilangan. Melalui permainan edukatif, anak akan merasa senang dan tanpa disadari anak sudah banyak belajar dengan sendirinya.

Permainan Menyerok Ikan
Permainan menyerok ikan adalah permainan yang menghubungkan antara anak dan angka atau bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan menyerok ikan merupakan permainan sederhana namun menarik bagi anak. Permainan menyerok ikan merupakan permainan yang bertujuan untuk memasangkan jumlah ikan dengan lambang bilangan.
Di dalam permainan menyerok ikan ini memiliki kelebihan yaitu diantaranya adalah anak akan dilatih untuk mengenal angka sesuai dengan lambangnya dengan cara yang menyenangkan, anak dilatih juga untuk berkonsentrasi penuh agar ikan dapat sampai ke ember dan tidak jatuh saat berlari dan berusaha memasukkan ke dalam ember yang sudah bertuliskan konsep bilangannya, anak diarahkan untuk mengenal warna yang ada pada ikan, serta anak dilatih untuk selalu sabar dalam melaksanakan permainan. Permainan dan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka juga akan semakin menarik dengan permainan menyerok ikan.

Post Author: admin