Site Loader

Resusitasi jantung paru (RJP) adalah metode untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti napas dan henti jantung yang tidak diharapkan mati saat itu. Tindakan RJP ini tidak hanya berlaku di dalam ruangan operasi, tapi dapat juga diluar jika terdapat suatu kejadian dimana ada seorang pasien atau korban, dalam usaha mempertahankan hidupnya dalam keadaan mengancam jiwa. Hal ini dikenal dengan bantuan hidup dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS). Sedangkan bantuan yang dilakukan dirumah sakit sebagai lanjutan dari BHD disebut bantuan hidup lanjut atau advance Cardiact life support (ACLS) (AHA, 2010)

Basic life support atau bantuan hidup dasar (BHD) adalah pendekatan sistemik untuk penilaian pertama psien, mengaktifkan respon gawat darurat. BHD sangat bermanfaat bagi penyelamatan kehidupan dengan pemberian sirkulasi dan napas buatan secara sederhana. BHD memberikan asupan oksigen dan sirkulasi darah ke sistem tubuh terutama organ yang sangat vital seperti otak dan jantung. Berhentinya sirkulasi beberapa detik sampai beberapa menit mengakibatkan asupan oksigen ke dalam otak terhenti, terjadi hipoksia otak yang menjadikan kemampuan koordinasi otak untuk menggerakan organ otonom menjadi terganggu, seperti gerakan denyut jantung dan pernapasan (AHA, 2015; Subagjo, 2011; Wiryana, 2010).

Penyelamatan nyawa akan sangat bermanfaat jika dilakukan dengan sebaik mungkin. Lebih baik ditolong, walaupun tidak sempurna daripada dibiarkan tanpa pertolongan. Pada saat henti napas, kandungan oksigen dalam darah masih tersedia sedikit, jantung masih mampu mensirkulasikan ke dalam organ penting, teruatama otak. Jika pada situasi ini diberi bantuan pernapasan, kebutuhan jantung akan oksigen untuk metabolisme tersedia dan henti jantung dapat dicegah (AHA, 2010; Subagjo, 2011; Wiryana, 2010).

Tujuan pelayanan kegawa-daruratan kardiovaskuler adalah untuk mempertahankan hidup, mengembalikan kesehatan seperti semula, mengurangi penderitaan, membatasi kecatatan dan mengembalikan penderita dari kematian klinis. Menurut American Heart Association (AHA), rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan resusitasi jantung paru, karena penderita yang diberikan RJP, mempunyai kesempatan yang besar untuk hidup kembali. RJP yang digunakan dirujuk pada pedoman AHA 2010 yaitu American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary resuscitation and Emergency Cardiovascular Care (AHA, 2010). Kemampuan petugas kesehatan dalam mengambil keputusan untuk melakukan RJP penting untuk menolong pasien. Semakin cepat seorang pasien yang mengalami henti jantung diberikan bantuan hidup dasar dengan kurang dari 5 menit dari saat ia mengalami henti jantung maka kemungkinan untuk tetap dapat bertahan hidup besar. Menurut AHA tahun 2010 kematian mungkin dapat dihindari jika terjadi keterlambatan 1 menit angka keberhasilan 98%, jika keterlambatan 4 menit angka keberhasilan 50%, dan jika terlambat 10 menit maka keberhasilan 1%. Pada beberapa keadaan, tindakan resusitasi tidak efektif bila henti jantung (cardiac arrest) telah berlangsung lebih dari 6 menit karena kerusakan sel otak permanen telah terjadi atau pada keadaan stadium lanjut seperti: gagal jantung refrakter, edema paru refrakter, renjatan yang mendahului “arrest”, kelainan neurologik berat, penyekit ginjal, hati, dan paru yang lanjut.

Perawat memiliki tanggung yang cukup besar dan peran yang signifikan dalam pelayanan kesehatan gawat darurat sehari-hari di instalasi gawat darurat (IGD). Perawat memberikan pelayanan perawatan pada pasien yang memiliki masalah kesehatan akut atau kritis yang sering mengancam kehidupan pasien. Kegiatan dan aktifitas perawat dalam pelayanan gawat darurat diantaranya meliputi: triase, initial assessment, dan mengelola pasien dengan kondisi akut atau mereka yang cedera parah, sampai pada intervensi penyelamatan jiwa.

Kompetensi resusitasi jantung paru/ bantuan hidup dasar (BHD) adalah keterampilan mendasar yang harus dimiliki petugas kesehatan. Hasil penelitian terhadap kalangan medis, perawat, dan dokter gigi memperlihatkan bahwa pengetahuan dan keterampilan dalam bantuan hidup dasar yang dimiliki petugas kesehatan rendah, terdapat perbedaan kualitas bantuan hidup dasar yang diberikan para petugas kesehatan, kekurangan dalam pelaksanaan bantuan hidup dasar diantaranya ketidakadekuatan pada kedalaman kompresi jantung dan jumlah/ frekuensi kompresi jantung ( Regge et all, 2008).

Kejadian gawat darurat berlangsung sangat cepat dan tiba-tiba sehingga sulit memprediksi kapan terjadinya. Langkah terbaik untuk situsi ini adalah waspada dan melakukan uapaya kongkrit untuk mengantisipasinya. Sehingga sangat penting bahwa setiap orang di sarana kesehatan mengetahui tentang bantuan hidup dasar untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. termasuk dokter, perawat, dan staf administrasi diharapkan mengetahui bantuan hidup dasar, karena sering menghadapi situasi gawat darurat.

Salah satu upaya meningkatkan pengetahuan adalah dengan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan. secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dan batasan ini tersirat unsure-unsur input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output (melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012).

Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan prilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan, sikap, ataupun praktik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu, kelompok maupun masyarakat, serta merupakan komponen dari program kesehatan (Notoatmodjo, 2012).

Post Author: admin